BALAI DESA DISULAP JADI POSKO TIMSES: KETIKA APARAT LUPA SIAPA YANG MENGGAJI MEREKAPILKADES BELUM DIMULAI, KECURANGAN SUDAH DIKONSOLIDASI

Lihat foto ini baik-baik. Seorang Calon Kepala Desa dirangkul mesra oleh Sekdes, Kaur, Kasi, dan Staf. Seragam cokelat yang seharusnya jadi simbol pelayan rakyat, kini jadi seragam tim sukses.
Ini bukan kekompakan. Ini KONSPIRASI JAGA PERIUK.
INGAT RUMUSNYA:
Jika seluruh aparat desa kompak jadi timses satu calon, itu bukan loyalitas. Itu tanda ada KEKUASAAN dan KENYAMANAN yang mereka nikmati bersama, dan mereka TAKUT KEHILANGAN jika Kades Baru datang.
Apa yang mereka takutkan?
Bukan takut desanya tidak maju. Mereka takut:
- JABATAN HILANG
Kursi empuk itu empuk. Tanpa perlu kerja keras, gaji dan tunjangan jalan. Kades baru berarti evaluasi baru. Yang tidak becus, pasti tersingkir. - DANA DESA TIDAK BISA DIUTAK-ATIK LAGI
Di meja itu jelas tertulis: DANA DESA – PROYEK DESA – PROGRAM DESA – KEWENANGAN. Di papan tulis: JABATAN, KEWENANGAN, ANGGARAN, PROYEK, KEPENTINGAN.
Semua di-centang. Artinya sudah dinikmati. Dana miliaran rupiah tiap tahun, kalau diaudit dengan benar, siapa yang berani jamin bersih? - PROYEK SILUMAN TERBONGKAR
Selama ini proyek desa dikerjakan siapa? Dikerjakan bagaimana? Dengan kades baru, buku lama akan dibuka. Itulah yang mereka takuti.
Aparat desa digaji oleh NEGARA, dari uang rakyat. Tugasnya melayani semua warga, bukan menjadi jongos salah satu calon. Ketika Sekdes sampai Staf jadi timses, maka Balai Desa sudah berubah fungsi: bukan lagi rumah rakyat, tapi markas pemenangan.
Ini pelanggaran telak. UU Desa melarang aparat terlibat politik praktis. Tapi aturan tinggal aturan kalau warga diam.
Pesan untuk Warga Desa:
Jangan polos. Kalau di desa kalian Sekdes, Kaur, Kasi, Staf sudah kompak pasang badan untuk satu calon, tanya dalam hati: ada apa yang mereka sembunyikan sampai sebegitu takutnya kalah?
Pilkades bukan soal ganti orang, tapi soal bongkar sistem yang sudah berkarat. Kalau kalian biarkan aparat jadi timses, siap-siap 6 tahun ke depan Dana Desa hanya akan berputar di meja yang sama, untuk perut yang sama.
Warga yang cerdas tidak memilih Kades yang dipeluk aparat, tapi memilih Kades yang ditakuti aparat nakal.
